Awal perhitungan pada peternakan kelinci potong harus diawali dengan perhitungan biaya induk jantan. Dengan mengetahui berapa jumlah biaya induk jantan keseluruhan (misal a rp), maka biaya ini kita bebankan ke jumlah induk betina (misal b ekor), sehingga kita tahu masing2 induk betina menanggung beban induk jantan sebesar a/b rupiah. Contoh : dalam satu saung kita punya induk betina 100 ekor dan induk jantan 20 ekor. Kalau 1 ekor induk jantan menghabiskan 100 gram pellet dengan harga 5000 rp/kg, maka biaya induk jantan per hari adalah 20 x 100 gr= 2 kg Dengan demikian tiap ekor induk betina akan memikul beban sebesar 2/100 = 0,02kg/ekor/hr. Kalau induk betina sejak dikawinkan sampai minggu ke 2 mengkonsumsi 100 gram/hari, 2 minggu kemudian naik 150 gram/hr, begitu seterusnya meningkat sampai usia sapih 6 minggu dengan konsumsi 300 gram/hr, maka rata-rata akan didapat konsumsi sebesar 200 gram/hr. Maka seekor induk betina dalam masa sejak dikawinkan sampai usia sapih (6 minggu)akan menghabiskan 6 x 7 x 200 gram = 8,4 kg , ditambah beban induk jantan sebesar 6 x 7 x 0,02 = 0,84 kg , jumlah menjadi 9,24 kg. Kalau harga pellet @ 5.000 rp, maka total biaya menjadi 9,24 x 5.000 = 46.200 rp/induk/kelahiran. Biaya inilah yg harus ditanggung oleh sianak dalam satu nest pada saat lepas sapih. Jadi misalkan siinduk beranak 8 ekor, maka yg boleh dihitung hanya 6 ekor saja dengan asumsi : 1 ekor sebagai cadangan replacement/induk pengganti dan 1 ekor sebagai cadangan mortalitas. Jadi tiap ekor anak kelinci lepas sapih menanggung beban 46.200/6 = 7.700 rp. Kalau saja bibit kelinci kita sama seperti punya mas Theo dimana umur 10 minggu sudah bisa panen dengan bobot 2,7 kg, maka hanya membutuhkan tambahan pakan sebanyak (4 minggu) , 4 x 7 x 100 gram = 2,8 kg x 5.000 rp = 14.000 rp. Sehingga total biaya = 7.700 + 14.000 = 21.700 rp. Ini hanya biaya pakan. Kalau kita mau mengacu pada asumsi bahwa biaya pakan mengambil porsi sebesar 70% dari biaya keseluruhan, maka biaya keseluruhannya menjadi 100/70 x 21.700 = 31.000 rp. Inilah harga dasar kelinci pada saat panen dimana disitu sudah termasuk biaya pakan(70 % =21.700), obat2an (5 % =1. 550), biaya anak kandang (10 % = 3.100), penyusutan kandang/saung( 10 % = 3.100) dan lain2 (5 % = 1.550). Seekor induk kelinci hanya boleh beranak 3 kali saja. Dengan tersedianya calon induk pengganti inilah sebagai alasan mengapa kita tidak perlu mengistirahatkan induk kelinci. Jadi dari pada diistirahatkan yg memakan biaya percuma ,lebih baik induk ini kita masukkan kedalam kelinci yg dipanen, toh sudah ada induk penggantinya. Lalu dari mana biaya pakan calon induk pengganti itu ? ya dari hasil penjualan siinduk yg diganti itu. Dari tiga periode kelahiran oleh satu induk itu , akan ada cadangan sebanyak 6 ekor (masing2 periode 2 ekor), padahal calon induk penggatinya hanya dicadangkan 1 ekor. Berarti cadangan mortalitas/kematiannya 5 ekor. Padahal dalam dunia peternakan tingkat kematian yg wajar hanya berkisar 10 % saja, itu berarti hanya 3 ekor ( 10% dari 24 ekor) untuk cadangan kematian. Berarti masih ada cadangan 2 ekor buat pengembangan ataupun kelebihan keuntungan . Nah ini semua kita catat dalam buku populasi ternak per saung, baik itu jumlah anak lahir, jumlah anak lepas sapih dan jumlah panen. Disanalah kita bisa berhitung , berapa biaya pakan yg dibutuhkan, berapa jumlah kelinci yg akan dipanen dan berapa keuntungan yg akan didapat. Itu semua bisa kita rinci secara akurat, tidak main kira2 sehingga kita menjadi jelas kita dalam posisi untung atau rugi.
sumber : https://www.facebook.com/notes/kelinci-magelang-raya/kiat-sukses-beternak-kelinci-pedaging/297813353651835/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar